ak duduk di ranjangku. memangku buku-buku dan kertas coretan. Sambil terus berfikir. Untuk apa aku sekolah dan belajar? telepon berbunyi, aku tau itu mereka. atau lebih tepatnya, salah satu dari mereka. Mama. Orang yang kutunggu2 untuk meneleponku. Suaranya lembut, riang, tapi tersirat kegelisahan. Aku tau pasti itu. Aku berusaha bertanya senormal mungkin tentang keadaan hari ini. Kemajuan, dan langkah telah ditetapkan. Cara berbicara yang optimis dan tenang. Harusnya semua itu membuatku senang. Tapi, dukaku tumbuh dalam hitungan menit. Suara yang kutahan, dan senyum yang kupaksa. Aku berbicara tentang sekolah ku. Bagaimana banyaknya bahan2 ujian nanti. Berharap dia teralihkan olehku. Dia pun kembali gelisah, bukan karena masalahnya, tapi masalahku, yang jauh lebih kecil darinya. Kasih sayang yang sulit kuungkapkan. Ketakutan jika anaknya tidak menjadi orang. Atau anaknya luka sedikit saja. Apa saja ditawarkanya untuk membuatku tidak tergores sedikitpun.
Tangisku meledak. Bagaimana bisa, kasih sayang dan cinta sebesar itu ada? Dan akupun tidak mempercayai hal itu benar2 ada di dunia ini.
Aku hanya berfikir, kalau aku harus terus berjuang, untuk aku dan mereka.
Friday, October 31, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment